folium 5 verso halaman pertama kitab

Ini adalah folio 5 verso dari manuskrip Sloane 2645 yang memuat halaman pertama teks fikih al-Muqaddimah al-Haḍramiyyah. Info kodikologis mengenai manuskrip ini telah saya sampaikan pada tulisan saya “inikah manuskrip pegon tertua di dunia?” Yang penting saya sampaikan di sini berkaitan dengan sisi kodikologisnya adalah bahwa manuskrip ini berkolofon tahun 1545 Saka atau 1623 Masehi. Ia merupakan sampel manuskrip pegon tertua yang sejauh ini ditemukan.

Setelah membahas sisi fisik dan keberadaan naskah pada tulisan yang lalu, sekarang, saya ingin membahas isinya. Hal ini penting karena teks dalam naskah ini dapat memberikan kita gambaran penting mengenai kurikulum pesantren pada masa itu. Ia juga dapat memberikan gambaran sejarah perkembangan penulisan pegon di nusantara. Lebih dari keduanya, teks ini juga dapat menjadi bukti jejaring keilmuan di Jawa pada abad ke-17 itu.

Ada beberapa teks dalam naskah berjumlah 120 folia ini. Namun yang hendak saya bahas adalah isi utama kitab ini yang dimulai folium 5 recto hingga folium 116 recto. InsyaAllah, teks lainnya, yang juga amat penting, akan dibahas dalam tulisan mendatang. Teks lengkap yang dikandung manuskrip kita adalah kitab ringkas dalam fikih madzhab Syāfi’ī, yaitu Masā’il al-Ta’līm. Kitab ini juga dikenal dengan naman Mukhtashar Bā Faḍl dan lebih populer lagi dengan nama al-Muqaddimah al-Haḍramiyyah.

Santri yang menyalin kitab ini bernama ‘Abdul Qadīm (lihat folium 116 recto). Sayangnya, saya tidak mengetahui lebih jauh jati diri penyalin ini, di mana ia mondok dan kepada siapa dia mengaji kitab ini. Dan memang informasi mengenai tradisi penyalinan naskah pegon nusantara kurang mendapat perhatian dibandingkan naskah Jawi, misalnya, yang mana beberapa penyalin yang terkenal sudah dapat diidentifikasi.

folium 116 recto kolofon berisi nama penyalin dan tahun penyalinan

Betapapun, kita bisa mendapatkan informasi cukup mengenai pengarang kitab al-Muqaddimah al-Ḥaḍramiyyah ini. Dia adalah al-’Allāmah ’Abdullāh bin ’Abdurraḥmān Balḥāj Bāfaḍl (850H-918H/ 1446M-1512M) dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Beliau lahir di Tarim dan tumbuh di sana hingga memiliki dasar ilmu yang kuat. Lalu beliau berkelana mencari ilmu ke 'Aden yang terkenal dengan para ulama yang ahli fikih. Lalu beliau melanjutkan perjalanan ilmiah ke dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Di Madinah beliau bertemu dengan banyak ulama di sana (Sa'd bin Muhammad Ba 'isyn, 2004, 8-21).

Sebelumnya, kita diberitahu bahwa Mukhtashar Bā Faḍl telah dikaji di nusantara, namun dalam bentuk syarah dan hasyiyah atasnya dari catatan Van den Berg. Di akhir abad ke-19, sarjana Belanda itu mendaftar kitab-kitab yang dikaji di pesantren di Jawa yang di dalamnya muncul kitab Minhāj al-Qawīm karya Ibn Ḥajar al-Haitamī (w. 973H/1565-6 M) yang merupakan syarah dan kitab al-Ḥawāsyī al-Madaniyyah karya Sulaimān al-Kurdī (w. 1194 H/1780 M) yang merupakan hasyiyah atas syarah Ibn Ḥajar. Seabad yang lalu, Martin van Bruinessen melakukan usaha yang sama dan hasilnya kitab al-Ḥawāsyī al-Madaniyyah sudah hilang dari peredaran di pesantren, atau tidak populer lagi. (Bruinessen, 2012, 129-130).

Dengan demikian keberadaan teks matan al-Muqaddimah al-Ḥaḍramiyyah membuktikan bahwa teks ini sudah dikaji sejak berbentuk matannya. Ia juga menjadi salah satu penyokong utama atas hipotesa Bruinessen bahwa fikih telah dikaji sejak abad ke-16 yang lalu (Bruinessen, 2012, 129-130). Dalam konteks kitab yang kita bahas, asumsi yang sangat mungkin adalah kitab al-Muqaddimah al-Ḥaḍramiyyah sudah dikaji sebelum syarahnya, Minhāj al-Qawīm lahir (pertengahan abad ke-16 M), karena kita lihat bahwa setelah itu, Minhāj al-Qawīm menggantikan matannya. Meskipun begitu, penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana jejaring keilmuan Nusantara-Tarim sangat diperlukan untuk mengetahui bagaiama matan ini bisa sampai di Jawa paling lama seabad setelah penulisnya wafat.

Akhirnya, kita bisa menyatakan dengan aman bahwa Islam yang berkembang di Nusantara, lebih khususnya Jawa, bukanlah Islam yang terdistorsi karena jauhnya baik secara geografis maupun budaya dari “sumber ajaran Islam”, karena sejak abad ke-16 sumber-sumber ortodoksi Islam telah dikaji di Jawa, bukan?

 

Nur Ahmad

Wakil Sekretaris PCINU Belanda