Amsterdam, 3 Oktober 2025 – PCINU Belanda dan Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) menyelenggarakan menyelenggarakan dialog antaragama bertajuk ” Melampaui semangat Konferensi Bandung: Antara barat yang sekuler dan timur yang religius?”
Salah satu rangkaian acara dalam dialog terebut adalah diskusi panel yang turut menghadirkan Alissa Wahid yang merupakan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian. Ia hadir untuk menanggapi relevansi semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 dalam menghadapi tantangan global saat ini, serta tantangan yang diajukan oleh Frans Dokman sebelumnya.
Alissa memulai panel dengan mengutip pandangan ayahnya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menyebut Indonesia sebagai negara yang “bukan negara agama dan bukan negara sekuler,”sebuah posisi yang menurutnya, sering berada di persimpangan.
Ia lalu mengambil contoh bagaimana hubungan agama dan politik di Indonesia yang menurutnya kerap bertolak belakang. Misalnya hasil survei yang menunjukkan 83% responden di Indonesia merasa agama memainkan peran yang lebih besar dalam 20 tahun terakhir. Namun, ia menekankan paradoks yang mendesak: peningkatan kuatnya pengaruh agama ini terjadi bersamaan dengan tingkat korupsi yang masih tinggi.
“Pertanyaannya adalah, apa artinya ini? Apakah ini ritualistik atau spiritual? Ini adalah paradoks yang ekstrem,” tegas Alissa.
Ia menjelaskan bahwa kuatnya pengaruh agama di Indonesia terkait erat dengan dua faktor utama: penggunaan agama untuk kepentingan politik, dan sifat masyarakat sosiosentris di Indonesia, yang berbeda dengan masyarakat individualistis di Barat.
Alissa Wahid menggarisbawahi tantangan mendasar yang muncul dari masyarakat sosiosentris di Indonesia, terutama ketika agama digunakan sebagai senjata politik. Hal ini seringkali berujung pada penindasan terhadap hak-hak individu.
“Contoh terbesarnya adalah masalah tempat ibadah minoritas. Ketika pembela HAM berbicara tentang hak konstitusional individu untuk beribadah, tantangan di tingkat lokal seringkali adalah ini dianggap ‘melawan harmoni sosial’,” jelasnya.
Sebaliknya, ia mengakui bahwa masyarakat individualistis di Barat, meskipun menjamin kebebasan nilai, berisiko terpecah-pecah jika tidak ada upaya kolektif yang disengaja untuk memperkuat nilai-nilai bersama.
Oleh karena itu, alih-alih berfokus pada kompetisi ide, Alissa mendesak agar komunitas global, baik sekuler maupun religius, berfokus pada titik temu dan gagasan bersama, untuk mengaplikasikan semangat Bandung hari ini, yaitu keadilan dan kedaulatan.
Alissa Wahid menutup paparannya dengan mengusulkan nilai-nilai alternatif.
“Semangat Bandung hari ini perlu didukung oleh struktur sosial dan sistem yang berlandaskan pada keadilan, pengasuhan (nurturing), dan hubungan (relationship) yang kuat, bukan pada kompetisi atau perspektif menang-kalah,”
“Hal ini menjadi kunci untuk mewujudkan solidaritas dekolonial di tengah krisis global, termasuk tantangan ekologis yang mendesak.”tutup Alissa.



Tinggalkan Balasan