Tanya ustadz!

Sampaikan pertanyaanmu

Klik disini!
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc.

Menko Pratikno Sampaikan Visi Pemberdayaan Santri Global dalam PCINU Summit 2025

Waktu baca: 2 menit

Groningen, Belanda – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., menyampaikan sambutan secara daring dalam acara PCINU Summit pada 2 Oktober 2025, yang digelar bersamaan dengan Biennial International Conference PCINU Belanda. PCINU Summit pertama kali ini dihadiri oleh delegasi dari PCINU Belanda, Inggris Raya, Jerman, Belgia, Mesir, Jepang, serta perwakilan pengurus lembaga dan badan otonom NU dari Indonesia. Turut hadir dalam acara ini adalah Nyai Alissa Wahid dan Dr. Achmad Munjid dari PBNU sebagai keynote speaker dan pembicara pengantar.

Di awal sambutannya, Menko Pratikno menyinggung sejarah dan kontribusi NU (Nahdlatul Ulama) dan pesantren di Indonesia. Menurutnya, kedua institusi ini dianggap sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan: “Keduanya adalah benteng penjaga aqidah dan sekaligus pilar penyangga negara kesatuan Republik Indonesia.” Pesantren disebut bukan sekadar sekolah, tetapi juga sebagai kawah candradimuka dan agen perubahan sosial, yang hingga 2024 telah mendidik lebih dari 5 juta santri di lebih dari 39.500 pesantren.

Menko Pratikno juga mengingatkan tentang kekuatan NU yang besar, dengan anggota mencapai lebih dari 108 juta jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan “samudera kekuatan manusia yang dahsyat” yang jika digerakkan secara tepat dapat memberikan kontribusi signifikan bagi bangsa dan kemanusiaan. Namun demikian, kekuatan ini dihadapkan pada tantangan global (dari luar) maupun lokal (dari dalam) yang memerlukan aksi nyata dan inovatif dari generasi santri.

Tantangan dari luar mencakup arus globalisasi dan persaingan sumber daya manusia di kawasan ASEAN, sekaligus infiltrasi ideologi transnasional yang bertentangan dengan akar budaya Islam di Nusantara. Menko Pratikno mengingatkan bahwa hoaks dan fitnah juga menjadi ancaman serius bagi ukhuwwah atau persaudaraan. Sementara itu, tantangan dari dalam negeri berkaitan dengan bonus demografi lebih dari 90 juta anak muda yang berada pada usia produktif pada 2045. Tanpa persiapan matang, potensi ini bisa menjadi bencana demografi.

Sebagai jawaban terhadap tantangan tersebut, Menko Pratikno menawarkan konsep jihad kontemporer, yang meliputi tiga dimensi: intelektual, ekonomi, dan digital. Jihad intelektual untuk melawan kebodohan, jihad ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, dan jihad digital untuk merebut ruang narasi, terutama dalam menyebarkan kebaikan dan kebenaran. “Sekali lagi, panggilan untuk sebuah jihad kontemporer,” tegasnya, menekankan urgensi aksi strategis yang melibatkan seluruh jaringan santri global.

Selanjutnya, dalam konteks transformasi ekonomi dan sosial, Menko Pratikno menekankan pentingnya pesantren menjadi pusat ekonomi rakyat dan jaringan santri global menjadi jembatan menuju pasar internasional. Beasiswa untuk studi lanjut juga dianggap sebagai momentum untuk memperkuat kapasitas santri sebagai duta Islam moderat: “Para santri global adalah diplomat budaya Islam Nusantara,” ujarnya. Dengan demikian, transformasi ini diharapkan mampu menghadirkan konsep Islam ramah dan moderat sebagai solusi konflik global.

Menko Pratikno juga menyoroti agenda digital sebagai fondasi strategi jangka pendek dan menengah. Untuk jangka pendek, empat fondasi digital yang diusulkan mencakup: platform NU Connect Global sebagai rumah digital diaspora santri; layanan Kyai Digital berbasis AI untuk konsultasi pengasuh pesantren; inisiasi pasar santri global melalui e-commerce dan crowdfunding untuk produk UMKM pesantren; serta kurikulum santri coder dan AI. Strategi jangka menengah mencakup pendirian pesantren technopark virtual, pengembangan AI untuk studi kitab kuning, dan kooperasi digital santri global.

Menutup sambutannya, Menko Pratikno mengingatkan bahwa para santri global adalah aset terbesar NU dan Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman. Ia menekankan perlunya konsolidasi kekuatan dan kolaborasi untuk mewujudkan proyek-proyek konkret, termasuk pemanfaatan jejaring global untuk pemberdayaan kampung halaman. “Masa depan kemandirian Nahdlatul Ulama ada di tangan para santrinya yang berwawasan global,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *