Amsterdam, 3 Oktober 2025 – PCINU Belanda bekerja sama dengan Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) menyelenggarakan dialog antaragama bertajuk ” Melampaui semangat Konferensi Bandung: Antara barat yang sekuler dan timur yang religius?” Acara yang digelar di Amsterdam ini menghadirkan Frans Dokman, peneliti senior pada Nijmegen Institute for Mission Studies di Radboud University Belanda, sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Dokman menekankan relevansi semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung tahun 1955. Spirit solidaritas, anti-kolonialisme, dan keadilan global dari konferensi tersebut, menurutnya, masih dibutuhkan untuk menjawab tantangan dunia saat ini. Ia mengajukan pertanyaan kunci: bagaimana agama dapat dilibatkan dalam menghadapi persoalan global, khususnya krisis ekologi dan ketidakadilan struktural?
Mengacu pada pemikiran Talal Asad, Dokman menyoroti bagaimana kolonialisme berusaha memisahkan agama dan negara. Ia juga merujuk pada Walter Mignolo yang menunjukkan bahwa sekularisme kerap dijadikan instrumen dominasi dalam produksi pengetahuan. Dengan cara ini, validitas keyakinan masyarakat lokal sering dipertanyakan, sehingga pengetahuan Barat ditempatkan sebagai kompas tunggal.
Dokman menegaskan bahwa krisis ekologi bukanlah isu baru. Namun, meskipun telah lama menjadi perbincangan, respons nyata terhadapnya masih berjalan lambat.
Padahal sejak Konferensi Bandung sudah ditegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan keadilan ekologi. Dalam situasi ini, baik pendekatan religius maupun sekuler memiliki potensi untuk mendorong reassessment of politics yang berorientasi pada keadilan ekologi.
Ia menambahkan, dialog antaragama tidak hanya penting sebagai ruang toleransi atau koeksistensi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai katalis perubahan sosial. Melibatkan peneliti, aktivis, dan komunitas lintas iman, dialog ini bisa membuka jalan bagi solidaritas dekolonial yang menantang dominasi kolonial dalam wacana pengetahuan maupun dalam praktik pembangunan.
“Agama dapat menjadi sumber imajinasi politik yang segar, yang tidak terjebak dalam logika kolonial modernitas. Di tengah krisis global yang kian mendesak, peran agama sebagai katalis solidaritas dekolonial bukan hanya mungkin, tetapi mendesak untuk diwujudkan,” tutup Dokman.




Tinggalkan Balasan